Rabu, 06 Februari 2019

Saya Jatuh Cinta dengan Sahabat Saya Sendiri

Saya jatuh cinta dengan sahabat saya sendiri. Kami sama-sama tahu. Tapi kami sama-sama memaklumi bahwa saya tak bisa menahan rasa dan dia sadar, dia tak berhak melarang perasaan saya.


Pada akhirnya, kami tetap membiarkan itu mengalir apa adanya.
Saya–bisa dibilang–semakin cinta. Dia, tetap bersedia dekat dengan saya.

Tapi sepuncak-puncaknya perasaan saya, saya tetap tak pernah berani menatap matanya terang-terangan.
Melihatnya tersenyum, itu lebih dari cukup

Sampai hari ini, saat dia sudah bersama lelaki yang siap membawanya ke sebuah dunia yang baru, saya masih berdiri di tempat yang sama, dengan perasaan yang sama, hanya saja dengan doa yang berbeda.

Ya, memang. Dulu, saya sempat berharap agar dia tak berpacaran dengan seseorang pun. Saya sempat berharap agar dia tidak dibahagiakan oleh orang lain selain saya.
Tapi saya sadar, dia tak menginginkan saya untuk membahagiakannya.

Dia tetap menempatkan saya di sebuah wadah yang memang dia inginkan: persahabatan.

Mungkin ini terkesan munafik. Tapi sekarang, meski saya tak bisa membahagiakannya secara langsung, paling tidak saya bisa sedikit rela ketika dia bahagia.

Saya tidak seegois waktu itu ketika saya berharap sayalah yang harus melakukan itu.

Saya semakin dewasa. Menyadari bahwa memang saya dan dia ditakdirkan untuk saling mengisi di sebuah hubungan yang tidak terlalu serius.

Mengasih sayanginya sebagai teman. Mencintainya sebagai seseorang yang tak pernah bisa memilikinya secara utuh.
Menjaganya sebagai seseorang yang tak boleh disakiti siapapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar